Resensi Buku: Mengumpulkan Keping Peradaban Lukula

Cover Buku Kali Gending

Judul Buku: Kaligending, Pesona Desa Lembah Lukula
ISBN: 978-623-92481-7-8
Penulis: Agus Salim Chamidi
Editor: Dr. Sumarto, M.Pd.I
Cetakan: Pertama, Januari 2020
Penerbit: Penerbit Buku Literasiologi, Rejang Lebong, Bengkulu
Halaman: 85 + xvi 

 

TAK sedikit peradaban kuno yang berbasis daerah aliran sungai. Yang sudah sangat populer adalah sungai Nil dalam peradaban Mesir. Juga sungai Tigris yang mengalir dari pegunungan Anatolia di Turki hingga melalui Irak dan bermuara di Teluk Persia, sepanjang sekitar 1.900 km.

Bersama sungai Eufrat yang melintasi Turki, Irak dan Suriah, kedua sungai tersebut menjadi basis peradaban Mesopotamia, negeri di antara dua sungai. Ada pula sungai Amazon di Amerika Selatan, sungai Gangga di India sampai sungai Mississippi di Amerika Serikat, kawasan tempat bermukimnya Choctaw, penduduk asli Amerika.

Bagaimana dengan sungai Lukula yang melintasi Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara dan membelah Kabupaten Kebumen menjadi daerah kulon kali dan wetan kali?

Jika melihat sejumlah pasar tradisional yang sampai kini sebagian masih bertahan di sepanjang aliran sungainya, setidaknya sungai Lukula pernah menjadi jalur alternatif transportasi dari kawasan pegunungan, perkotaan sampai pesisir.

Dari pasar Sadang, di bagian paling utara Kebumen, pasar Karangsambung, pasar Kaligending, kampung batik Tanuraksan, lalu di kawasan perkotaan ada pasar Mertakanda, Pasar Pring, Pasar Rabuk dan Pasar Pari, sampai di kawasan pesisir ada Warung Pring di Desa Rantewringin. Sementara di tepi barat sungai Lukula ada pasar Peniron, industri genteng Soka dan pasar Darawati.

Sebagai jalur alternatif transportasi tentu banyak interaksi penduduk dan mereka yang sering melakukan perjalanan. Demikian juga dengan pemanfaatan sungai Lukula untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari lainnya seperti pertanian, perikanan tangkap hingga kebutuhan hidup sehari-hari untuk mandi, cuci dan buang air.

Kehadiran buku Kaligending yang ditulis Agus Salim Chamidi, staf pengajar IAINU dan aktivis NU Kebumen seperti mencoba memberikan sekeping peradaban masyarakat di sepanjang sungai Lukula. Disebut sekeping peradaban, karena buku ini hanya mengupas salah satu desa di tepi sungai Lukula, yakni Desa Kaligending.

Mendengar nama desanya, sepintas orang akan berasumsi, desa itu dialiri kali atau sungai Gending. Terlebih di desa itu juga ada bendungan (model mercu bulat) Kaligending. Padahal menurut penulis buku ini, penamaan Kaligending menggabungkan aspek fisik-hidrologis berupa keberadaan kali (sungai) yakni Lukula, dan aspek sosial-tokoh yakni Gending atau Ki Ageng Gending yang merupakan guru dari Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati), pendiri Kasultanan Mataram.

Nama Desa Kaligending diyakini Agus Salim (hal 2-3) mulai muncul pada masa Sultan Agung (Raja Mataram ketiga, 1613-1645) atau di Kebumen masa Adipati Panjer Ki Badranala (1642-1658).

Perkiraan penulis ini tampaknya didasarkan pada fakta bahwa Sultan Agung menyebut karya besarnya dengan nama Kitab Sastra Gending, yang diyakini untuk mengenang jasa gurunya (hal 20). Karena Ki Ageng Gending merupakan guru Panembahan Senopati, maka Agus Salim memperkirakan, bahwa Sultan Agung mungkin juga pernah bertemu Ki Ageng Gending. Setidaknya menerima ilmu Ki Ageng Gending yang diwariskan kakeknya (Panembahan Senopati)

Keberadaan Ki Ageng Gending tentu memperkaya khazanah peradaban masyarakat di sepanjang aliran sungai Lukula. Perkiraan penulis buku ini, bahwa Ki Ageng Gending hidup pada masa transisi Demak-Pajang-Mataram, menunjukkan bahwa semestinya sudah ada peradaban tinggi di sepanjang sungai Lukula sehingga mampu melahirkan tokoh sekaliber Ki Ageng Gending.

Intisari buku ini, memang mengupas ketokohan Ki Ageng Gending. Bagian-bagian lainnya lebih bersifat melengkapi ragam informasi tentang masyarakat Desa Kaligending. Meski ada beberapa tokoh lain yang disebut, yakni Mbah Datar, Mbah Partrawirya dan Raden Makmur, tidak sedetail penjelasan tentang Ki Ageng Gending.

Keunikan Desa Kaligending dari sisi sejarah ada dua yang perlu jadi catatan. Pertama keberadaan pengikut Pangeran Diponegoro di daerah Kalikudu, Dusun Ketapang. Hal ini ditandai dengan keberadaan pohon Sawo yang diyakini ditanam usai Perang Diponegoro (1825-1830)

Penanaman pohon Sawo simbol dari konsep  suwwu (Bahasa Arab, yang berarti luruskan barisan). Rumah-rumah dan tempat lain yang ditanami sawo saat itu adalah rumah dan tempat dari pengikut Diponegoro yang siap untuk berbaris kembali apabila diperlukan pasca perang (hal 51).

Kedua, adanya Dusun Krajan dan Dukuh Kuwu menunjukkan dulunya di Desa Kaligending pernah didiami bangsawan. Entah dari masa Majapahit, Demak, Pajang atau Mataram, masih perlu penelitian lebih lanjut.

Tradisi masyarakat dan kesenian yang pernah dan masih hidup di Desa Kaligending tampaknya sekadar pelengkap informasi dalam buku ini. Demikian juga dengan obyek wisata dan kuliner yang ada di Desa Kaligending. Tradisi Suran Merdi Bumi dengan pembuatan tenongan misalnya, belum dikupas mendalam. Gulai sendat dan oyek daging klonyom yang hanya disinggung sedikit.

Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending tampaknya belum menarik minat penulisnya mengkaji lebih jauh. Umpamanya dasar pertimbangan penetapan lokasi TPA, baik kajian teknis maupun filosofisnya. Sehingga buku ini masih tergolong ringkas dalam mengupas keberadaan Desa Kaligending.

Yang terasa agak mengganggu dari buku ini terlalu banyak tulisan “pendapat saya”. Tanpa perlu ditulis, jika tidak disebutkan referensinya, pendapat dalam suatu buku sudah sudah tentu merupakan pendapat penulisnya.

Penggunaan bahasa Indonesia masih perlu diperbaiki, termasuk oleh editornya. Dalam pengantarnya Dr. Sumarto, M.Pd.I, editor sekaligus  founder Yayasan Literasi Kita Indonesia menulis, “Tulisan yang menarik untuk terus di gali, di bahas dalam diskusi, di bawa dalam seminar untuk di sampaikan kepada public.” (hal x). Menurut kaidah bahasa Indonesia yang benar mestinya digali, dibahas, dibawa dan publik (bukan di gali, di bahas, di bawa dan public).

Sekalipun demikian, buku ringkas ini memberikan kontribusi berarti bagi upaya menggali lebih jauh seluk-beluk desa di Kabupaten Kebumen, khususnya sepanjang aliran sungai Lukula. Semoga penerbitan buku serupa segera menyusul.(*)

 

Karya beliau: silahkan mengunjungi : https://scholar.google.co.id/citations?user=qV5_c60AAAAJ&hl=id

PETIR800 LOGIN PETIR800 Mahjong Wins 3 Dan Perubahan Tren Pengguna Platform Online Mahjong Ways Mulai Sering Muncul Dalam Obrolan Harian Forum Komunitas Kembali Menyoroti Popularitas Mahjong Wins 3 Mahjong Ways Dan Gelombang Minat Baru Pemain Online Mahjong Wins 3 Menjadi Obrolan Ringan Di Kalangan Pengguna Mahjong Ways Disebut Punya Ciri Permainan Yang Berbeda Mahjong Wins 3 Kembali Hadir Dalam Tren Diskusi Digital Pemain Media Sosial Mulai Membicarakan Keunikan Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Dan Kebiasaan Baru Komunitas Online Mahjong Wins 3 Kembali Menarik Rasa Penasaran Komunitas Mahjong Ways Disebut Sering Muncul Dalam Forum Pengguna Mahjong Wins 3 Dan Tren Ringan Yang Lagi Populer Pengguna Media Digital Menyoroti Perkembangan Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Muncul Di Berbagai Pembahasan Komunitas Online Mahjong Ways Kembali Jadi Topik Menarik Di Kalangan Pemain Mahjong Wins 3 Dan Pengalaman Ringan Yang Sering Diceritakan Mahjong Ways Dibahas Karena Gaya Permainan Yang Mudah Diingat Mahjong Wins 3 Menjadi Bagian Dari Tren Online Terbaru Mahjong Ways Dan Obrolan Komunitas Yang Terus Berkembang Mahjong Wins 3 Kembali Ramai Dalam Diskusi Media Sosial Pemain Digital Mulai Tertarik Pada Fitur Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Dan Perubahan Minat Pengguna Platform Online Mahjong Ways Menjadi Perbincangan Ringan Di Komunitas Forum Online Mulai Sering Menyoroti Mahjong Wins 3 Mahjong Ways Dan Kebiasaan Baru Pengguna Hiburan Digital Mahjong Wins 3 Dinilai Punya Gaya Visual Yang Kuat Mahjong Ways Kembali Muncul Dalam Obrolan Pemain Online Mahjong Wins 3 Jadi Salah Satu Tren Komunitas Digital Mahjong Ways Jadi Pembahasan Yang Sering Muncul Di Platform Digital Mahjong Ways Dan Fenomena Yang Mulai Sering Dibahas Online Mahjong Ways Dan Percakapan Online Yang Semakin Sering Muncul Mahjong Wins 3 Menarik Perhatian Komunitas Pengguna Digital Pemain Online Mulai Mengulas Pengalaman Bermain Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Jadi Bahan Obrolan Ringan Di Forum Internet Mahjong Ways Disebut Sering Muncul Dalam Diskusi Komunitas Mahjong Wins 3 Dan Tren Digital Yang Terus Bergerak Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan Pengguna Platform Online Mahjong Wins 3 Dan Cerita Pemain Yang Ramai Dibagikan Pengguna Media Sosial Menyoroti Keunikan Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Menjadi Salah Satu Topik Populer Pekan Ini Mahjong Ways Jadi Bagian Dari Tren Diskusi Digital Terbaru Mahjong Wins 3 Dan Aktivitas Online Yang Semakin Ramai Pemain Komunitas Mulai Sering Menyoroti Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Menjadi Bahan Obrolan Ringan Di Media Sosial Mahjong Ways Disebut Punya Irama Permainan Yang Menarik Mahjong Wins 3 Kembali Muncul Dalam Tren Pemain Digital Pengguna Online Membagikan Pengalaman Ringan Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Dan Topik Komunitas Yang Terus Bertambah Mahjong Ways Menarik Perhatian Karena Ciri Visualnya Forum Pemain Digital Kembali Membahas Mahjong Wins 3 Mahjong Ways Dan Perubahan Gaya Hiburan Digital Modern Mahjong Wins 3 Sering Muncul Di Percakapan Pengguna Online Mahjong Ways Menjadi Sorotan Karena Fitur Yang Unik Mahjong Wins 3 Dan Tren Baru Yang Menarik Diperhatikan Komunitas Media Sosial Mulai Ramai Membahas Mahjong Ways Mahjong Wins 3 Jadi Topik Santai Pengguna Platform Digital Mahjong Ways Kembali Jadi Bahan Diskusi Pada Jam Malam Mahjong Wins 3 Dan Cerita Pengguna Yang Sering Dibagikan Mahjong Ways Disebut Memiliki Daya Tarik Yang Berbeda Pengguna Digital Kembali Melirik Perkembangan Mahjong Wins 3